CERPEN: Hari Ini Kita Pulang

⚠ TW: Child abusing ⚠



             Malam terasa begitu dingin di Desa Cahaya. Cukup dingin untuk membuai sang cahaya Desa Cahaya hampir terlelap. Di antara terpaan angin yang menusuk-nusuk serta cahaya remang-remang, sepasang kaki mungil berlari. Tertatih-tatih ia menginjak biji-biji dandelion yang tidak cukup beruntung untuk jatuh di tempat yang sesuai. Seperti biji-biji dandelion itu, jiwa kecil di atas remangnya jalanan Desa Cahaya juga begitu malang. Ia jatuh pada tempat yang tak sesuai.

              Jemari mungilnya hati-hati mengelus jejak merah di pipi. Perih. Panas. Dan, ia tak tahu mengapa selalu ada air menggenang di pelupuk matanya setiap kali ia melakukan itu. Kata Betsie dulu, tubuh manusia punya pertahanan sendiri dari rasa sakit atau takut atau sedih atau marah. Violet hanya menebak-nebak, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh anak seusianya, mungkin, genangan air di pelupuk mata ini adalah bagian dari "pertahanan sendiri tubuh" seperti yang dikatakan Betsie. Biasanya, jika Violet hanya menebak-nebak (sebagaimana yang dilakukan anak-anak seusianya), ia akan bertanya pada Betsie. Betsie-lah yang kemudian menjawab setiap pertanyaannya. Namun, sekarang, tidak ada lagi Betsie. Kata Ibu Tetangga, Betsie sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Violet tidak bisa menyusul ke sana. Ia tak sedang berada di rumah, tempat abu tubuh Betsie diletakkan. Dia juga tidak bisa berlari ke Kota Lain, tempat mobil Betsie tertabrak sebuah truk besar beberapa waktu lalu.

            Satu-satunya tempat yang bisa Violet datangi sekarang adalah taman ini. Jaraknya hanya beberapa meter dari rumah, tetapi Violet tahu, itu cukup jauh bagi Ayah yang tengah mabuk berat untuk menyusulnya. Dalam kondisi seperti ini, Ayah bahkan tidak bisa berjalan dari kamar ke toilet dengan baik. Yang bisa Ayah lakukan dalam kondisi itu hanya tiga: marah-marah, memaki, dan memukul (kadang-kadang juga menendang). Dan, ketiga hal itu selalu menyasar Violet.

            Angin malam bertiup sekali lagi. Mantel ungu Violet seperti gelombang samudera di tengah malam. Mengembang, lalu terjuntai kembali. Ayunan di tengah taman sebenarnya terlalu tinggi bagi gadis lima tahun sepertinya. Violet biasanya meminta bantuan dari Betsie. Belakangan, seiring ia menyadari bahwa Betsie benar-benar telah pergi sementara ia masih ingin terus bermain ayunan itu, ia juga meminta tolong pada Ibu Tetangga. Anak-anak Ibu Tetangga, Alvin dan Yvonne, juga adalah teman-teman Violet. Sama seperti Violet, mereka berdua juga suka bermain ayunan di tengah taman.

            Namun, malam ini, Violet ke taman seorang diri. Ayunan masih terlalu tinggi untuknya. Ibu Tetangga tidak ada di sini. Betsie telah pergi ke tempat yang lebih baik. Tidak ada yang bisa membantunya menaiki ayunan itu. Sambil menahan perih dan panas di pipi kiri juga nyeri di punggungnya, kaki mungil Violet menggapai-gapai. Tangannya berpegangan pada tali tambang yang mengikat ayunan dengan kokoh. Tiga kali. Lima kali. Kelima percobaan selalu gagal. Di kali kelima, Violet menyerah setelah tubuhnya hampir saja terjerembab. Dengan kesal, ia memungut sebutir kerikil di depan kaki, lalu melempar benda itu sekuat tenaga. Akan tetapi, tangannya sendiri terlalu lelah. Pertama untuk melindungi diri dari Ayah, kedua untuk berusaha menaiki ayunan di tengah taman. Kerikil yang ia lempar jatuh tak sampai semeter dari tempatnya berdiri.

            "Selamat malam."

            Violet hampir melompat seperti seekor kelinci hutan mendengar suara itu. Suara seorang perempuan. Tentu bukan Ayah (semua orang juga tahu bahwa untuk dipanggil dengan sebutan ayah, seseorang harus menjadi pria terlebih dulu. Perempuan hanya bisa dipanggil ibu atau nenek). Suaranya masih terdengar muda. Jelas sekali bukan Betsie. Juga tidak serak basah seperti suara Ibu Tetangga. Suara wanita itu begitu dalam. Lembut. Mendengar suaranya mengingatkan Violet pada selimut rajutan Betsie. Suara itu juga hangat. Mengingatkannya akan susu cokelat panas buatan Ibu Tetangga saat hujan badai seminggu lalu. Meski demikian, suara wanita itu dalam. Sedalam danau tempat Ayah pernah mencoba menenggelamkannya sebulan setelah kepergian Betsie.

            Menyusul suara itu, juga menjawab rasa penasaran Violet, seorang wanita mendekat. Ia mengenakan gaun putih semata kaki. Seanggun langkah kaki wanita itu, demikian gaun putihnya berkibar anggun mengikuti tiupan angin malam. Seutas senyum ramah tertatah di wajah sawo matangnya. Wajah yang tampak meyakinkan, tapi Violet telah cukup banyak mendengar kisah penyihir putih dari Betsie. Ya, ya! Gadis bergaun putih berjalan di taman pada malam hari. Tentu itu aneh.

            "Kulihat, kamu begitu kesulitan untuk menaiki ayunan ini. Ingin kubantu?"

            Violet tetap bungkam. Matanya memicing tajam. Seperti seorang detektif andal, ia menelusuri tubuh Si Gaun Putih dari atas ke bawah berulang kali. Entah apa yang ia lakukan. Barangkali ia ingin membuat Si Gaun Putih merasa tak aman akan tatapannya. Namun, tidak sesuai dengan yang ia harapkan, Si Gaun Putih malah tertawa kecil.

            "Oh, gadis kecil manis!" katanya sambil melambaikan tangan di depan wajah, seolah ada ngengat beterbangan di depan matanya. "Kamu tidak perlu takut begitu. Aku tidak berniat untuk melakukan yang jahat padamu. Aku hanya kasihan melihat seorang anak kecil kesulitan menaiki ayunan di malam hari. Begini." Si Gaun Putih membungkuk, mengambil sebuah batu yang cukup besar, lalu menyodorkannya pada Violet. "Kamu bisa pegang ini. Kalau aku melakukan yang tidak-tidak, kamu bisa memukulku dengan batu itu sampai aku pingsan. Setuju?"

            Violet berpikir sekali lagi. Mulutnya bungkam sejenak. Itu ide yang bagus sebenarnya. Violet pernah melihat Ayah memukul temannya sesama preman pasar dengan batu yang sama besarnya. Kepala orang itu berdarah. Hampir mati dan Ayah hampir masuk penjara. Mungkin Violet bisa melakukan yang sama jika Si Gaun Putih berbuat yang aneh-aneh. Ia tidak akan dibawa penjara. Tentu saja. Bukankah Si Gaun Putih sendiri yang mempersilakan dirinya untuk memukul? Dengan setengah hati masih was-was, Violet mengambil batu dari tangan Si Gaun Putih.

            Bibir Si Gaun Putih mengembang ke atas. Senyum yang lembut, hangat, dan dalam. Ia lalu meletakkan tangannya di bawah apitan ketiak Violet. Lantas seperti terbang, kaki Violet tak lagi menapak tanah. Gadis itu mengangkatnya, kemudian meletakkannya di ayunan dengan posisi ternyaman--setidaknya menurut Si Gaun Putih sendiri. Untunglah pendapat Violet tak jauh berbeda dari pendapat Si Gaun Putih. Ia juga menyukai posisi ini. Posisi duduk yang sangat nyaman.

            "Terima kasih," ucap Violet setengah berbisik. 

            Biasanya, jika ia berbicara dengan cara demikian di rumah, Ayah akan mulai memakinya dengan kalimat sejenis, "Berbicaralah yang keras, anak tolol! Jangan gunakan mulutmu itu hanya untuk makan dan menghabiskan uangku!" Ia pikir, Si Gaun Putih akan bereaksi sama seperti Ayah. Sayangnya, dugaannya salah. Si Gaun Putih tetap tersenyum. Rambutnya yang lurus dan licin meluncur turun saat ia mengangguk satu kali.

            "Sama-sama. Lihat? Kamu tak perlu takut padaku."

            Violet manggut-manggut. Meski demikian, tangannya masih menggenggam erat bongkahan batu. Dalam dongeng yang Betsie ceritakan, para penyihir putih memang sering bertingkah sangat baik untuk menjebak mangsanya. Namun, Violet bukan si pandir yang gampang dibodohi. Sementara kakinya berayun-ayun pelan, ia tetap memasang sikap waspada.

            "Apa yang kamu lakukan di sini?"

            Violet diam sejenak. Menimbang-nimbang jawaban apa yang harus ia berikan. Ia juga tidak tahu kenapa ia ke sini. Ia merasa kakinya bergerak sendiri. Mereka seperti tak perlu diperintah. Tahu ke mana harus pergi dengan alasan yang juga hanya mereka yang tahu. "Bermain."

            "Tidak ada anak kecil yang bermain ayunan di taman malam-malam. Seorang diri pula. Bagaimana kalau orang tuamu khawatir?"

            "Tapi, tidak akan ada yang khawatir. Tidak ada Ibu di rumah. Ayah hanya tidur."

            "Tapi, mereka tentu sayang padamu, 'kan? Orang tua yang menyayangi anak pasti akan khawatir pada anaknya."

            Violet memiringkan kepala ke kanan (yang satu ini adalah hobinya selain bermain ayunan), lalu kemudian ke kiri (yang ini adalah hobi alternatif). "Tidak tahu," jawabnya sambil mengangkat bahu. "Tapi, kalau disayang oleh Ayah berarti harus dipanggil 'tolol' atau dipukul tiap hari, sepertinya aku tidak mau disayang oleh Ayah."

            "Anak-anak baik biasanya memang sering bertemu orang tua yang tidak baik," tutur Si Gaun Putih sambil memanyunkan bibirnya yang semerah buah delima.

            "Sungguh? Tahu dari mana?" Mata Violet membeliak lebar-lebar.

            "Aku sering bertemu dengan anak-anak baik dan orang tua yang tidak baik."

            "Apakah mereka juga dipanggil 'tolol' oleh orang tua mereka? Ditampar? Ditendang seperti bola plastik? Dipukul dengan botol kaca? Disiram dengan air mendidih?"

            "Ya, ya, ya. Mereka semua pernah menerima hal-hal yang kamu sebutkan."

            "Wah! Orang tua mereka mungkin saudaranya Ayah atau saudara jauh Ayah."

            "Mengapa demikian?"

            "Karena kata Betsie, orang yang bersaudara pasti punya sifat atau sikap yang hampir mirip. Misalnya saja Alvin dan Yvonne."

             Si Gaun Putih memiringkan kepala ke kanan (Violet tidak tahu bahwa ternyata Si Gaun Putih punya hobi yang sama dengannya), lalu ke kiri (juga hobi alternatif yang sama). Ia kemudian mengangguk-angguk. "Mungkin bisa jadi demikian."

            "Di mana anak-anak itu sekarang? Aku ingin berbicara dengan mereka."

            "Mereka ada di tempat yang lebih baik. Mereka sering bermain bersama Betsie, nenekmu."

            "Wah! Kau kenal dengan Betsie?"

            "Tentu saja. Dia adalah salah satu penghuni paling baik di tempat yang lebih baik."

            "Kalau begitu, bolehkah aku ke sana? Aku ingin bertemu Betsie juga anak-anak yang sering dipanggil 'tolol' dan dipukul oleh orang tua mereka."

            "Tentu saja boleh. Aku justru ingin mengajakmu sejak tadi. Kita akan pulang hari ini."

            "Tapi ...." Senyum semringah di wajah Violet luntur secepat angin malam yang mulai bertiup ke arah berlawanan.

            "Tapi kenapa?"

            "Ibu Tetangga bilang, orang yang sudah pergi ke tempat yang lebih baik tidak akan bisa kembali. Itu artinya aku tidak akan pernah bertemu dengan Alvin dan Yvonne lagi."

            Si Gaun Putih menengadah. Violet kira, ada papan tulis di atas kepala gadis itu. Papan tulis tempat jawaban untuk pertanyaan Violet dituliskan. Violet ikut menadahkan wajah, tetapi sayangnya, tak ada papan tulis di atas kepalanya ataupun kepala Si Gaun Putih. Hanya ada langit malam yang kelabu. Satu per satu awan berdatangan, menutupi cahaya malu-malu bulan sabit. 

            "Itu betul," Si Gaun Putih akhirnya menjawab, "tapi suatu hari nanti, mereka pun akan menyusulmu ke sana. Tempat yang lebih baik adalah rumah bagi semua orang, ingat? Terutama anak-anak baik."

            "Sekalipun orang tua mereka baik?"

            "Sekalipun mereka tidak punya orang tua," jawab Si Gaun Putih mantap.

            "Tapi, tetap saja. Aku pasti akan merindukan mereka. Pasti butuh waktu yang lumayan lama sampai mereka bisa menyusul. Aku saja perlu waktu lumayan lama untuk menyusul Betsie." Wajah Violet tetap muram. Ah, langit Desa Cahaya semakin kelabu melihat awan mendung di wajah gadis manis nan menggemaskan tersebut. "Nona Gaun Putih."

            "Ya?"

            "Bolehkah aku bertemu dengan Alvin dan Yvonne sebelum pergi ke tempat lebih baik? Sekali saja. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada mereka dan meminta mereka berjanji untuk menyusulku secepatnya."

            "Tentu. Tapi, mereka berdua tidak akan bisa melihat ataupun mendengarmu."

            "Tidak masalah. Kata Ibu Tetangga, pertemanan yang sejati akan bisa terus melihat sekalipun buta, akan bisa terus mendengar sekalipun tuli."

            "Baiklah. Kalau begitu, mari kita pergi!" Si Gaun Putih menurunkan Violet, lalu menggandeng tangannya.

            Violet tidak pernah menempuh perjalanan secepat itu. Lebih cepat dari kedipan mata. Ia yakin bahwa itu lebih cepat dari kedipan mata karena ia bahkan belum selesai mengedipkan matanya ketika ia menyadari bahwa ia telah berada di kamar Alvin dan Yvonne. Pasangan saudara kembar itu masih tidur bersama, Violet tahu. Mereka menyukai warna yang sama. Biru. Juga hal yang sama. Laut. Itulah sebabnya kamar mereka berwarna biru dan ada banyak lukisan hewan-hewan laut seperti ikan, gurita, kuda laut, dan ubur-ubur dalam kamar mereka. Bahkan bantal yang mereka gunakan adalah bantal berwarna biru dengan cetakan gambar rumput laut. Ibu Tetangga sebenarnya pernah memberikan Violet bantal yang sama, tapi belum seminggu Violet menggunakan bantal tersebut, Ayah sudah lebih dulu membakarnya.

            "Anak tolol dan sialan sepertimu tidak pantas memakai bantal sebagus itu, tahu?" Begitu kira-kira kata Ayah saat Violet sambil menangis dan meraung bertanya mengenai alasan bantal dari Ibu Tetangga dibakar.

            Kamar luas ini adalah tempat favorit kedua milik tiga sekawan selain taman di tengah Desa Cahaya. Alasannya tentu saja karena kamar ini hanya milik mereka bertiga. Mereka bisa bermain sampai mereka puas dan tidak tahu lagi harus melakukan apa selain tertidur kelelahan. Namun, sebentar lagi, kamar ini hanya akan menjadi milik Alvin dan Yvonne. Violet akan bermain bersama Betsie dan anak-anak baik yang memiliki orang tua tidak baik di tempat yang lebih baik. Memikirkan hal itu, membuat Violet semakin sedih.

            Dengan langkah bimbang, Violet akhirnya mendekati Alvin dan Yvonne. Mereka berdua terlihat sangat lelap. Mata mereka terpejam amat rapat. Seolah Ibu Tetangga merekatkan kelopak mata mereka dengan lem. Namun, Violet tahu itu tidak benar. Ibu Tetangga orang tua yang baik. Daripada merekatkan kelopak mata anak-anaknya dengan lem, Ibu Tetangga pasti lebih suka membacakan dongeng seperti yang sering Betsie lakukan padanya dulu.

            "Oh, teman-temanku yang baik." Violet membuka kalimat perpisahannya. "Aku sangat senang sekali bisa mengenal kalian. Tapi, kata Nona Gaun Putih, aku bisa bertemu dengan Betsie serta anak-anak baik lainnya di tempat yang lebih baik. Nona Gaun Putih mengajakku ke sana. Katanya, aku harus pulang." Violet berhenti sejenak. Menarik napas. Rintik-rintik hujan mulai terdengar di luar sana. "Selamat tinggal. Aku akan sangat merindukan kalian."

            Violet merangkak menuruni ranjang. Dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya, ia kembali ke samping Si Gaun Putih yang tengah tersenyum bangga padanya. Ah, Si Gaun Putih nampaknya memang suka sekali tersenyum.

            "Sudah?"

            "Sudah."

            Si Gaun Putih menggandeng tangan Violet. Lebih teguh daripada gandengan sebelumnya.

            "Nona Gaun Putih, kalau aku boleh tahu, dengan apa kita akan pergi ke sana?"

            "Dengan hujan." Bersamaan dengan jawaban itu, riuh hujan semakin deras. Violet bisa merasakan tubuhnya terasa semakin ringan. Awalnya seringan kapas, kemudian seringan kertas, hingga akhirnya seringan angin.

            Tepat saat tubuhnya telah seringan cahaya di Desa Cahaya, ia memberanikan diri untuk bertanya. Terakhir kali. "Nona Gaun Putih, kalau aku boleh tahu sekali lagi, siapa namamu?"

            Si Gaun Putih menatap Violet. Matanya indah, seperti sepasang biji kacang almond. "Orang-orang memanggilku Yehudiel."

            Fajar menyingsing setelah semalaman hujan deras mengguyur Desa Cahaya. Namun, Desa Cahaya nampaknya akan segera berganti nama menjadi Desa Kegelapan. Di depan rumah sewa sempit itu, mobil-mobil polisi berjejer tak karuan. Posisi mobil mereka menunjukkan seolah mereka tak punya cukup banyak waktu untuk sekadar memarkir mobil dengan tepat. Sebagian pria bertubuh tegap dengan pistol tersarung di pinggang berbaris. Tubuh mereka yang tinggi jangkung menghadang langkah tak sabaran warga. Wajah-wajah penasaran yang mendesak hendak masuk ke dalam.

            "Tidak bisa!" tolak salah seorang polisi tegas. "Pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan. Tolong biarkan kami melaksanakan tugas kami."

            Segera koran-koran disebar ke rumah-rumah. Radio dan televisi tak kalah heboh. Headline yang sama beredar di mana-mana: Seorang Ayah Mabuk, Tega Membunuh Putrinya yang Berusia Lima Tahun. Yang tersisa di tengah kehebohan itu hanyalah Alvin dan Yvonne. Semalam sebelum tubuh mungil sahabat mereka ditemukan, mereka bermimpi. Violet ada di kamar mereka. Ia berpamitan. Hendak pergi ke tempat yang lebih baik, katanya. Hanya saja, ibu mereka tak pernah mau percaya.

            Ah, dalam beberapa hal, orang dewasa memang aneh.

Komentar