CERMIN: Serenade (untuk) Malaikat Tak Bersayap

            Namanya Ava. Dia teman sekelasku. Salah satu teman terbaik yang pernah kumiliki sepanjang aku bisa mengingat. Ava berarti "seperti burung" dalam bahasa Ibrani. Dan, kurasa, Ava begitu pantas untuk nama itu. Seperti burung, ia juga bisa terbang. Begitu tinggi. Setidaknya, itu yang ia percaya. Dan, kami yang pernah singgah dalam hidupnya, mengamini hal itu.

            Aku bertemu dengannya saat kami sama-sama berada di kelas sepuluh. Itu berarti dua tahun yang lalu. Ava duduk tepat di depanku, berhadapan dengan meja guru. Tubuhnya yang pendek dan sedikit berisi kemudian yang menjadi pelindungku setiap kali guru Matematika atau Fisika atau Kimia menunjuk satu murid untuk maju dan menjawab soal-soal yang tak kupaham. Taktik yang kugunakan bisa dibilang cukup berhasil. Tak pernah sekalipun aku ditunjuk untuk maju ke depan selama dua tahun aku duduk di belakang Ava. Ava seolah punya sayap transparan yang mampu membuat siapa pun yang berlindung di baliknya juga menjadi transparan.

            Ada banyak hal mengenai Ava yang kuingat. Yang tak bisa kulupakan. Selain sayap transparannya yang ajaib, Ava juga punya tawa yang ajaib. Tawa yang menular, yang membuat orang lain merasakan gelitikan ringan di perut mereka hingga mereka tertawa sama kerasnya seperti yang Ava lakukan. Ia juga suka menyanyi. Suara nyanyiannya mirip kicauan seekor burung kala fajar menyingsing tiap pagi. Kadang, kakinya juga begitu semangat. Melompat ke sana dan ke sini seperti seekor anak rusa.

            Tariannya yang liar.

            Tepuk tangannya yang menggema.

            Puisi-puisinya yang sepenggal-sepenggal.

            Tangisannya yang memilukan.

            Lukanya yang menganga.

            "Kuatkan diri kamu, Zoya ...." Bisikan itu lirih mengisi telingaku, memutus kenangan selama dua tahun bersama Ava. 

            Aku mengangkat kepala. Di depanku, sebuah peti mati dari kayu mahogani. Cokelat pekat. Aku melongok sekali lagi ke dalam peti mati. Berharap ia kosong. Berharap raga kaku yang kulihat barusan hanya bagian dari mimpi burukku yang belum tuntas sejak kemarin malam. Berharap ini hanya main-main. Candaan yang kelewatan batas.

            Tapi, peti mati itu tidak kosong. Seorang gadis dengan rambut pendek sedikit melebihi bahu terbaring di dalamnya. Tubuhnya yang kaku berbalut gaun putih kesukaannya. Gaun putih yang ia kenakan di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas sebulan lalu. Aku mengulurkan tangan. Berusaha menggapai tangannya yang selalu memelukku setiap pagi kami berjumpa di kelas. Dingin. Kehangatan yang biasanya ia alirkan pada setiap orang menghilang. Yang aku tak tahu hanya ke mana mereka menyelinap pergi. Di kastil mana mereka menginap pagi ini?

            Leherku terasa penat. Tidak sanggup menahan kepalaku. Peti mati inilah yang menjadi sandaran kokoh, seperti sepasang sayap yang selama ini menjadi tempatku berteduh. Dalam keadaan itu, telingaku akhirnya bisa menangkap raungan, tangisan, ratapan. Pilu. Menari liar di langit-langit. Berputar-putar tak tahu arah. Sesaat kemudian, raunganku ikut bergabung di sana. Tak ingin ketinggalan pesta kematian yang memedihkan.

            Namanya Ava. Seperti burung, ia bisa terbang. Dan, malam kemarin, dalam satu titik keputusasaan yang terlalu dalam, ia memutuskan untuk mengerahkan seluruh tenaganya dan terbang. Terbang. Terbang. Terlalu tinggi hingga rumahnya bukan lagi di sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN: Hari Ini Kita Pulang