Postingan

CERMIN: Serenade (untuk) Malaikat Tak Bersayap

            Namanya Ava. Dia teman sekelasku. Salah satu teman terbaik yang pernah kumiliki sepanjang aku bisa mengingat. Ava berarti "seperti burung" dalam bahasa Ibrani. Dan, kurasa, Ava begitu pantas untuk nama itu. Seperti burung, ia juga bisa terbang. Begitu tinggi. Setidaknya, itu yang ia percaya. Dan, kami yang pernah singgah dalam hidupnya, mengamini hal itu.               Aku bertemu dengannya saat kami sama-sama berada di kelas sepuluh. Itu berarti dua tahun yang lalu. Ava duduk tepat di depanku, berhadapan dengan meja guru. Tubuhnya yang pendek dan sedikit berisi kemudian yang menjadi pelindungku setiap kali guru Matematika atau Fisika atau Kimia menunjuk satu murid untuk maju dan menjawab soal-soal yang tak kupaham. Taktik yang kugunakan bisa dibilang cukup berhasil. Tak pernah sekalipun aku ditunjuk untuk maju ke depan selama dua tahun aku duduk di belakang Ava. Ava seolah punya sayap transparan yang...

CERPEN: Hari Ini Kita Pulang

⚠ TW: Child abusing ⚠                 Malam terasa begitu dingin di Desa Cahaya. Cukup dingin untuk membuai sang cahaya Desa Cahaya hampir terlelap. Di antara terpaan angin yang menusuk-nusuk serta cahaya remang-remang, sepasang kaki mungil berlari. Tertatih-tatih ia menginjak biji-biji dandelion yang tidak cukup beruntung untuk jatuh di tempat yang sesuai. Seperti biji-biji dandelion itu, jiwa kecil di atas remangnya jalanan Desa Cahaya juga begitu malang. Ia jatuh pada tempat yang tak sesuai.                  Jemari mungilnya hati-hati mengelus jejak merah di pipi. Perih. Panas. Dan, ia tak tahu mengapa selalu ada air menggenang di pelupuk matanya setiap kali ia melakukan itu. Kata Betsie dulu, tubuh manusia punya pertahanan sendiri dari rasa sakit atau takut atau sedih atau marah. Violet hanya menebak-nebak, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh anak seusianya, mungkin, genangan air di pelu...

Cermin: Sepasang Suara, Sepasang Kesunyian

               "Dan, di sinilah saya."               Lampu menyala, menyorot sesosok gadis bergaun merah. Pundak gadis itu terbuka berani, menantang dinginnya angin malam. Ia gemetar. Suaranya tidak menapak tanah. Ia tidak kedinginan. Hanya suaranya yang bergetar. Tidak tahu mengapa. Gemetarnya--ataukah lampu sorot di atas sana--menarik seisi warung gemerlap--ataukah bar kesunyian--itu untuk menatapnya. Mata-mata yang mengawang. Setengah tak sadar. Berusaha memahami selarik syair.               Di sini?               Di mana?               Di bar inikah?               Di tengah kesunyian?               Di sini?               Di mana?          ...