Cermin: Sepasang Suara, Sepasang Kesunyian

            "Dan, di sinilah saya."

            Lampu menyala, menyorot sesosok gadis bergaun merah. Pundak gadis itu terbuka berani, menantang dinginnya angin malam. Ia gemetar. Suaranya tidak menapak tanah. Ia tidak kedinginan. Hanya suaranya yang bergetar. Tidak tahu mengapa. Gemetarnya--ataukah lampu sorot di atas sana--menarik seisi warung gemerlap--ataukah bar kesunyian--itu untuk menatapnya. Mata-mata yang mengawang. Setengah tak sadar. Berusaha memahami selarik syair.

            Di sini?

            Di mana?

            Di bar inikah?

            Di tengah kesunyian?

            Di sini?

            Di mana?

            Tetapi, bar kesunyian terlalu mabuk untuk membunuh kesunyian dengan sebilah pertanyaan. Mereka bahkan terlalu mabuk untuk memutar musik memabukkan. Hanya si gadis bergaun merah yang mampu membelah kesunyian dengan syairnya. Ah, mungkin ia hanya merasa terasing lantaran tak ikut mabuk. Entah ke mana anggurnya yang baru usai diperas itu. Barangkali tumpah ke gaun dan mengubahnya menjadi semerah darah.

            "Di tengah kesunyian ini, sayalah yang telah terlalu berani melawan arus. Sebagian terlelap. Sebagian mabuk. Sebagian bercumbu. Hanya saya saja yang bersyair."

            Orang-orang dalam bar kesunyian sadar. Gadis berbaju merah tengah menyindir mereka. Akan tetapi, mereka terlalu takut untuk melawan sunyi. Kemarahan menguar. Mereka memilih mengabaikannya. Sang gadis melanjutkan syairnya.

            "Saya melawan arus." Semakin lantang ia berbicara. "Kalian berlari dari luka, memilih sepasang kesunyian. Namun, saya memungut sepasang suara. Menjadikannya sayap. Saya terbang menuju luka. Menjemputnya. Memeluknya. Hingga suatu saat, ia lebur menjadi saya. Entah kapan, suatu hari nanti, kalian pun akan tiba di sini."

            Lampu padam. Pertunjukan berakhir. Hanya keheningan yang bertepuk tangan, mengiring sang gadis bergaun merah yang tak tahu pergi ke mana. Barangkali ia menyelinap keluar lewat kegelapan. Barangkali sepasang suara telah menjemputnya. Dan, seisi bar itu mengamini kemungkinan terakhir dalam hati masing-masing. Sepasang suara telah menjemput gadis berbaju merah. Mereka mengantar gadis tanpa nama itu menuju luka yang lama ia tinggalkan.


















Catatan Penulis: Cerita mini ini saya buat saat jam pelajaran tengah kosong di sekolah. Sementara teman-teman saya terlelap, menangis, bercumbu, saya menuliskan cerita mini ini. Dalam beberapa kesempatan, seringkali kita merasa terasing. Saat yang lain melarikan diri dari luka, kita memilih memeluknya. Saat yang lain memilih kesunyian, kita memilih suara yang lantang. Terdengar aneh, tetapi situasi ini sering Anda dan saya alami. Pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN: Hari Ini Kita Pulang